JADWAL IBADAH

AYAT HARI INI

"TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas. Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel"

Mazmur 103 : 6 -7

TEMA GPIB

“Menguatkan Tatanan Bergereja Agar Mendatangkan Berkat Masa Depan Bagi Umat dan Masyarakat”
Ibrani 11 : 8 - 10

RENUNGAN DARI MEJA PENDETA

JADI MURID DAN BUKAN SEKEDAR PENGIKUT

Matius 10 : 37 - 42

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,

Menjadi murid Yesus bukanlah sekedar murid tetapi murid yang berbeda dari pengikut. Menjadi murid Yesus artinya mengemban tugas penting yang diperintahkan-Nya yakni memberitakan kabar sukacita (Matius 10: 1 dan 7).

Pengutusan para murid adalah pengutusan yang akan menghadirkan perubahan sosial ketika mereka yang tidak berdaya tetap berpeluang untuk menjadi berarti (ayat 8). Tugas yang diemban bukanlah tugas yang sederhana dan karena itu dilengkapi dengan kuasa Roh Kudus yang menghadirkan peristiwa besar.

Bacaan kita saat ini menyoroti hal penting dan mendasar dalam kapasitas sebagai murid Yesus, yakni mengakui bahwa ada kuasa besar yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Melalui narasi tentang pengutusan ini hendak dikemukakan bahwa ikatan yang kuat antara murid dan Yesus adalah ikatan yang menghasilkan spirit untuk terus berkarya bagi sesama. Dalam ikatan yang demikian dibutuhkan kesediaan untuk mengikatkan diri pada sang Guru.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam ikatan yang demikian ialah:

1. Melepas ikatan lain yang akan mengalihkan tugas sebagai seorang murid dan ikatan yang harus dilepaskan adalah ikatan darah (ayat 37). Kedatangan Yesus yang membawa pemisahan secara radikal dan konsisten telah menghasilkan terputusnya ikatan yang bersifat menghambat. Ikatan dalam keluarga adalah ikatan yang erat namun sekaligus ditantang untuk dilepaskan. Barang siapa lebih mengasihi ikatan darah, maka Ia tidak layak/ tidak berharga bagi Tuhan. Konsep ini mempertegas pengutusan Yesus kepada para murid yakni terbukanya ikatan baru yakni ikatan dalam iman dengan mereka yang tidak sedarah. Itu berarti bahwa dalam ikatan dengan Yesus terwujudlah keadaan yang baru yakni menjadi berarti bagi sesama.

Dalam dunia yang serba individualis ini para murid dihadapkan dengan pilihan yang tidak sederhana yakni memberi diri dalam ikatan yang baru dengan Yesus. Hal itu berarti keluarga bukanlah ikatan terakhir sebab dalam perjumpaan dengan sesama terbentuklah keluarga yang baru. Itu berarti keluarga yang harmonis akan memproduksi keadaan yang harmonis bagi sesama. Sebuah perintah baru yang tentu saja mendulang banyak penolakan.

Hubungan darah bukanlah hubungan yang sederhana namun jika hubungan darah hanya untuk kepenting ‘kedalam’ maka murid atau kita tidak layak dalam pandangan Yesus.

Jadi apakah yang harus kita lakukan? Hadirlah sebagai berkat bagi keluarga agar dengan demikian menjadi berkat bagi sesama bukanlah perkara yang terlalu sulit. Kebiasaan yang baik dalam keluarga akan menular bagi keluarga yang lain. Inilah yang dikehendaki Yesus yakni keluarga yang memahami kehadirannya tidak secara sempit tetapi menjangkau setiap orang sehingga setiap orang yang berjumpa dengan para murid mengalami juga kekuatan yang baru dalam hidup ini.

2. Dengan sadar ’mengambil’ salib yang harus diterimanya sebagai konsekuensi mengikut Yesus sehingga disebut dengan berharga/ bernilai. Bukankah salib adalah lambang kematian? Bukankah salib adalah lambang kebinasaan? Maka mengambil salib tentu bukan pilihan yang mudah (take his cross-KJV). Mengambil salib sendiri dan bukan salib Yesus sebab siapakah yang sanggup memikul salib-Nya?

Dengan jalan demikian maka seorang murid akan menjalani kehidupan penyangkalan atau pengosongan diri. Mengambil salib berarti memalingkan ‘muka’ dari dunia dan mengarahkan pandangan hanya pada Yesus. Mengambil salib lalu berkaitan erat dengan komitmen untuk sungguhsungguh mau mengakhiri tugas sebagai murid yang menang. Ini berarti bahwa narasi mengambil salib adalah sebuah ungkapan imperatif, bukan pilihan tetapi keharusan.

Hal ini penting sebab dengan jalan demikian setiap murid dapat menunjukkan kualitasnya sebagai murid yang tidak tergoda oleh ke-dunia-wian. Murid yang senantiasa mengambil keputusan terbaik untuk kepentingan banyak orang sebab ia hadir dan menjadi berkat.

Sahabat-sahabat yang terkasih,

Jika kedua hal di atas menjadi keputusan setiap murid maka jaminan dari Yesus adalah sebuah kepastian (ayat 40-42). Kata ‘dechomenos’ menunjukkan adanya penerimaan dengan kelapangan hati, penerimaan yang tidak dilandasi dengan transaksi. Penerimaan seperti inilah yang akan dialami para murid. Saudara/i akan diterima dengan lapang dada sebab membawa penerimaan Yesus Kristus. Penerimaan yang dialami hanya terjadi ketika kesediaan untuk menjadi murid dengan sungguh-sungguh dihayati dalam ‘terlepasnya ikatan primordial’ dan sekaligus kerelaan untuk mengambil salib sendiri. Kehadiran kita selaku murid akan membawa dampak bagi mereka yang menerima kita, sebab sekalipun hanya secangkir air sejuk namun dalam penerimaan yang terbuka, itu artinya kita menjadi berkat bagi si pemberi.

Hayatilah hidup yang berkemenangan dalam perjumpaan dengan Dia sang Guru yang baik agar kita menjadi murid yang bertangungjawab saat ini.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS. SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA, JERIH LELAH KITA TIDAK SIA-SIA.

KALENDER KEGIATAN

SEKTOR PELAYANAN

Sektor Pelayanan 3